Menkeu: Pola Belanja Pemerintah Jadi Menarik sejak Pengalihan Subsidi BBM
JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan
Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pemerintah banyak mengalokasikan
anggaran dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke pos-pos produktif.
Bambang pun menyebut ada hal menarik dari pola belanja yang dilakukan
pemerintah sejak pengalokasian subsidi BBM dilakukan.
“Ada dua hal menarik dari pola belanja kita sekarang. Pertama,
biasanya belanja K/L (kementerian/lembaga) di bawah belanja non-K/L.
Sebab, belanja non-K/L ada subsidi BBM yang jumlahnya sangat besar,”
kata Bambang, Jumat (9/1/2015).
Saat ini, Bambang melanjutkan, belanja kementerian/lembaga lebih
besar di atas belanja non-K/L. Setelah tidak memberikan subsidi pada BBM
jenis premium, maka anggaran untuk BBM tahun anggaran 2015 yang
diusulkan dalam APBN-P sebesar hanya Rp 56 triliun. Dari penghematan
tersebut, pemerintah memiliki ruang fiskal hingga mencapai Rp 205
triliun.
Penambahan anggaran akan diperuntukkan kementerian/lembaga yang menjalankan agenda pembangunan prioritas. Bambang mengatakan total tambahan anggaran mencapai Rp 155 triliun.
“Kemudian belanja infrastruktur naik dari Rp 190 triliun jadi Rp 290 triliun dibanding APBN 2015,” ujar Bambang.
Di samping itu, Bambang juga menambahkan, pemerintah akan mengurangi
kewajiban setoran perusahaan pelat merah atau dividen. Jika sebelumnya
kewajiban dividen dari pagu dalam APBN 2015 tercatat sebesar Rp 44
triliun, maka kini berkurang menjadi Rp 35 triliun.
“PMN (Penyertaan Modal Negara) untuk BUMN Rp 37 triliun, utamanya
BUMN di bidang infrastruktur ditambah. Misalnya, Antam (PT Aneka
Tambang) yang didorong hilirisasi dari minerba, terutama untuk smelter,”
ujar Bambang.
Sumber : Kompas.com tanggal 12 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar